0

Pak “Bule” dan Penjepit Gorengan

Beberapa hari yang lalu, seperti biasanya  saya  makan siang di warung makan di sekitaran kantor saya. Namun ada kejadian unik yang akhirnya membuat saya berpikir dan merenung sejenak.

Kejadiannya berawal ketika saya sedang asyik memilih-milih lauk pauk untuk teman makan. Karena konsep warung makan itu adalah parasmanan, maka semua orang yang hendak makan di tempat itu dipersilahkan untuk mengambil nasi dan lauk pauknya sendiri-sendiri. Tentunya, semuar orang harus mengantri.

Sampai tiba pada giliran saya, gorengan tahu kesukaan saya sudah melambai-lambai membuat saya makin “ngences”. Sudah menjadi kebiasaan saya, saya selalu memilih-milih gorengan mana yang mau saya ambil dengan tangan. Gorengan tahu yang satu saya ambil dengan tangan, saya bolak-balik kemudian taruh lagi. Ambil lagi gorengan tahu yang lain, dilihat-lihat kemudian taruh lagi. Mungkin sampe 3-4 kali saya melakukan hal itu. Sampai tiba-tiba, seorang bapak-bapak “bule” mungkin berumur sekitar 50 tahunan menepuk bahu saya dari belakang. Bapak-bapak bule itu tepatnya terhalang 1 orang di belakang antrian saya.

Dia kemudian berkata dengan bahasa Indonesianya yang cukup fasih dan tegas kepada saya, ” Hei, kalau kamu mau ngambil gitu, kamu pakai itu penjepit! Kamu harus pakai penjepit! Bagaimana kalo semua orang mau ambil itu gorengan dan kamu sudah megang-megang itu?”.

Kata-kata Bapak-bapak “bule”  itu benar-benar membuat saya kaget sekaligus malu. Kata-kata yang benar-benar sangat masuk menggedor hati saya. Selama ini tidak pernah ada satupun orang yang menegur saya sampai seperti itu. Selama saya makan di tempat itu pun, orang-orang lain cuek-cuek saja.

Namun akhirnya ada juga yang menegur kebiasaan jelek saya sedemikian tegasnya. Jujur, dalam hati saya merasa tersinggung dan malu. Tapi walau bagaimana itu memang kebiasaan jelek dan kesalahan saya yang harus saya rubah. Ada beberapa hikmah yang saya ambil dari kejadian kecil ini.

Pertama, saya sadar bahwa kita tidak boleh egois. Kita harus memikirkan orang lain. Dari hal-hal yang sangat sederhana saja seperti memilah-milah gorengan dengan tangan sungguh menunjukan keegoisan saya. Betul kata Bapak “bule”, saya tidak memikirkan bagaimana orang lain, saya hanya memikirkan diri saya sendiri.

Saya juga sadar, bahwa kritikan yang pedas itu benar-benar dapat membuat kita jauh lebih baik. Kenapa harus marah dan tersinggung dengan orang yang mengkritik kita?

Bapak “bule” juga mengajarkan saya untuk berani berbicara dan menyuarakan sesuatu. Selama saya makan di tempat itu, dan berulang kali melakukan kebiasaan jelek itu, hanya bapak “bule” itu saja yang berani menegur saya dan menasihati saya dengan kata-kata yang tegas. Awalnya saya merasa bapak “bule” itu egois. “Wajar kok saya kaya gitu, kalo di Indonesia wajar-wajar saja kok, gak cuma saya kaya gitu”, pikir saya.

Tapi setelah saya renungkan, saya lah ternyata yang memang egois. Saya melupakan etika dan tidak memikirkan bahwa tidak semua orang melihat apa yang saya lakukan adalah hal yang biasa. Mungkin di tempat itu banyak yang merasa jorok melihat kebiasaan jelek saya memilah-milah makanan. Banyak yang merasa risih karena makanan nya menjadi tidak higienis. Namun tidak ada yang berani bersuara dan menegur saya seperti bapak “bule”.

Kesimpulannya, dari kejadian yang sangat sederhana itu saya belajar bagaimana untuk lebih memikirkan orang lain. Dan pelajaran itu bahkan bisa berawal dari hal-hal yang sangat kecil dan sangat sederhana.



Rekomendasikan Artikel Ini ?

Gungun Septian

Bukan Ustad, bukan Politisi, bukan Artis. Cuma Programmer yang hobi nulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *