0

Review Buku : Novel “Kau, Aku Dan Sepucuk Angpau Merah” – Darwis Tere Liye

“Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.”

 

Jadi rasanya sudah lama sekali saya gak nulis review buku lagi ya. Ok, kali ini saya ingin mencoba menulis review dari buku yang sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu saya baca.  Buku ini merupakan salah satu novel karya dari salah satu penulis favorit saya, Bang Darwis Tere Liye.  Novel ini berjudul “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah”.  Membaca novel ini membuat kita serasa sedang berada di pulau Kalimantan di pinggiran sungai Kapuas.
Novel ini berkisah tentang kisah cinta seorang pemuda polos bernama Borno. Borno selalu memegang teguh petuah ibunya bahwa pekerjaan apapun harus kita jalani selama masih berada dalam batasan nilai-nilai agama, pekerjaan yang halal. Borno beberapa kali melamar kerja dan akhirnya beberapa kali mendapatkan pekerjaan walau hanya sebagai seorang buruh di tempat-tempat yang bau.

Sampai pada akhirnya, Borno memutuskan untuk memulai pekerjaan barunya meneruskan profesi turun temurun almarhum ayahnya sebagai seorang pengemudi Sepit (Perahu bermotor tempel) menyebrangi sungai Kapuas. Hari demi hari Borno belajar bagaiman mengemudikan Sepit dengan baik. Borno memulai hari baru, menjalani rutinitasnya sebagai seorang pengemudi Sepit sampai pada suatu ketika, Borno menemukan sebuah sepucuk surat berwarna merah milik salah satu penumpang Sepit yang tanpa sengaja terjatuh dan tertinggal di Sepit miliknya.

Borno sadar bahwa sepucuk surat berwarna merah itu adalah milik seorang gadis keturunan yang sempat menumpang di Sepitnya. Dengan penuh penasaran, Borno selalu berusaha mencari cara untuk kembali menemukan gadis itu dan mengembalikan kembali surat berwarna merah yang menurutnya, itu merupakan surat yang sangat penting bagi sang gadis.

Borno pada akhirnya dapat kembali menemukan sang gadis dan akhirnya terkuaklah bahwa surat itu hanyalah sepucuk angpau merah berisi uang untuk dibagikan pada anak-anak kecil.  Gadis itu bernama Mei. Dan pada saat itu, Borno baru merasakan indahnya jatuh cinta. Sejak hari itu hidup Borno menjadi penuh warna, setiap hari ia selalu berusaha melakukan hal-hal bodoh agar ia bisa kembali bertemu dengan Mei, dan melakukan berbagai macam cara agar Mei selalu menumpang di Sepit miliknya. Dan benar kata orang-orang, cinta bisa membuat kita melakukan hal-hal bodoh dan konyol.

Seperti biasa Bang Darwis selalu bisa megolah cerita cinta yang sebenarnya sangat sederhana dan sering kita alami baik dalam hidup kita atau di dalam lingkungan sekitar kita menjadi kisah cinta yang menarik untuk diikuti. Tingkah Borno yang baru pertama kali jatuh cinta ini selalu membuat kita senyum-senyum sendiri bahkan merasa tersindir karena kita pun pasti pernah melakukan hal-hal bodoh dan konyol demi cinta.

Bukan Bang Darwis Tere Liye namanya jika dalam setiap novel yang ditulisnya tidak menyisipkan petuah-petuah cinta dan kehidupan. Dari buku ini kita bisa mendapatkan banyak sekali petuah dari Pak Tua, salah satu tokoh bijak yang berprofesi sama sebagai seorang pengemudi Sepit.

Membaca buku ini kita juga akan bisa mengenal lebih jauh bagaimana kehidupan di Kalimantan Barat, khususnya di pinggiran sungai Kapuas.

Seperti yang sempat saya utarakan diatas, buku ini seolah menyindir dan mengingatkan kita bahwa terkadang kita akan melakukan hal-hal bodoh dan konyol apapun demi cinta yang sedang kita perjuangkan.  Kita akan merasakan bagaiaman tersiksanya Borno ketika Mei harus pulang ke Surabaya, terpaut ratusan kilo meter dari tempatnya tingal, berbeda pulau. Bang Darwis sangat pintar mengolah kata dan mengoyak perasaan pembaca, sehingga kitapu akan terbawa suasana dengan perasaan yang dialami Borno. Bukan karena kisah dan pengolahan kata yang rumit, namun justru karena kisah seperti demikian sangat lekat dengan kehidupan kita, orang –orang yang pernah jatuh cinta.

Saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk mebaca buku ini. Dan salah satu hal paling penting yang harus selalu kita ingat adalah, cinta sejati selalu sederhana.

 

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan.”



Rekomendasikan Artikel Ini ?

Gungun Septian

Bukan Ustad, bukan Politisi, bukan Artis. Cuma Programmer yang hobi nulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *