0

Review Buku: Novel “Sunset Bersama Rosie – Darwis Tere Liye”

” Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu yang paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki gunung. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi. “

 

Bagi yang pernah membaca novel berjudul Sunset Bersama Rosie mungkin tidak akan asing dengan kalimat di atas. Kalimat di atas adalah potongan dari salah satu novel karya Darwis Tere Liye. Novel yang cukup memain-mainkan emosi bagi saya.

Gili Trawangan. Mungkin itu kata pertama yang akan telintas dari pikiran kita ketika mendengar nama judul novel ini.

sunset bersama rosie

Novel ini berkisah tentang sesosok pria bernama Tegar yang mempunyai masa lalu kelam tentang perasaan cintanya yang tak pernah tersampaikan kepada Rosie, teman karibnya dari sejak kecil. Beranjak dewasa, Tegar mempunyai keinginan untuk menyatakan perasaan cintanya yang sudah lama tertahan pada Rosie di atas puncak Rinjani. TTegar mengajak Rosie untuk mendaki gunung Rinjani. Namun Tegar juga mengajak seorang sahabat lainnya bernama Nathan untuk menemani.
Namun rencana itu malah menjadi bencana terbesar bagi Tegar. Bencana yang membuat perasaannya tersiksa selama bertahun-tahun lamanya.

Ketika Tegar hendak menyatakan perasaan cintanya pada Rosie di atas puncak Gungun Rinjani, Tegar mendapati Nathan sedang menyatakan cintanya pada Rosie. Dua bulan sebelum rencana pendakian itu, Tegar sengaja memperkenalkan Nathan pada Rosie. Tapi dua puluh tahun waktu Tegar mengenal Rosie ternyata tidak bisa mengalahkan dua bulan masa waktu Nathan mengenal Rosie. Entah siapa yang salah? apakah memang Tegar yang tidak pernah berada di relung hati paling dalam Rosie sehingga tidak akan pernah ada kesempatan untuk Tegar bisa memiliki Rosie, ataukah karena meman Tegar sendirilah yang tak pernah membuat kesempatan itu ada. Tegar berlari menghilang dari Rosie dan Nathan.

Tegar memutuskan pergi menjauh dari Gili Trawangan. Tegar pergi ke Jakarta. Hari-hari yang Tegar lalui di Jakarta begitu menyiksa. Apalagi setelah Tegar mengetahui bahwa Nathan dan Rosie akan segera menikah.

Seperti kalimat dalam buku ini yang begitu dalam bagi saya,

“Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya…. Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.”

Bertahun-tahun lamanya Tegar harus menyibukan dirinya sendiri untuk membunuh rasa rindu itu datang. Rasa rindu juga benci. Hingga pada suatu hari, tiba-tiba Rosie dan Nathan berhasil menemukan keberadaan Tegar dan menemukan Tegar di sebuah Apartement. Ada satu hal yang membuat perasaan benci Tegar pada Rosie dan Nathan seketika itu hilang. Yaitu ketika seorang gadis kecil yang tak lain adalah putri dari Nathan dan Rosie yang tiba-tiba begitu akrab dengannya. Inilah salah satu yang disebut dengan sebuah pemahaman baru tentang arti cinta.

Awal masalah timbul ketika Nathan harus tewas dalam sebuah insiden Bom ketika keluarga kecil Nathan dan Rosie sedang berlibur di bali. Rosie yang keadaan mentalnya menjadi terganggu memaksa Tegar harus tinggal kembali di Gili Trawangan untuk menjaga putri-putri kecil Rosie dan Nathan. Rasa sayang Tegar pada putri-putri Rosie dan Nathan telah menghilangkan segala kebencian dan kisah menyakitkan yang Tegar alami karena Nathan dan Rosie. Tapi permasalahan lain adalah, ketika Tegar memutuskan untuk tinggal di Gili Trawangan dalam waktu yang lama, Tegar hampir melupakan bahwa ada seorang wanita yang sedang menunggunya untuk kembali pulang ke Jakarta. Sekar, gadis yang sangat mencintai Tegar setulus hati.

Seteleh selesai membaca novel ini, saya mendapatkan sebuah pemahaman baru tentang arti cinta. Novel ini mengajarkan bagaimana menyikapi cinta dan takdir. Kira bisa belajar dari sosok Tegar yang melihat cinta dengan pemahaman baru. Kita bisa belajar dari sosok Jasmine, salah satu putri Rosie dan Nathan yang ketika itu berhadapan langsung dengan pelaku bom perenggut nyawa ayahnya, namun malah menunjukan sebuah kelapangan hati yang besar serta ketulusan untuk belajar memaafkan.

Dan tentunya kita bisa belajar dari Sekar, yang menunjukan bagaimana caranya mencintai dengan setulus hati.

Masih banyak tokoh-tokoh lain yang teramat penting bagi saya. Tokoh-tokoh lain yang memberikan pelajaran hidup, juga pemahaman baru tentang bagaimana kita memandang dan menyikapi suatu hal.

Penilaian saya untuk novel ini adalah 4 dari 5.

“Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”

 

“Kata orang bijak, kita tidak pernah merasa lapar untuk dua hal. Satu, karena jatuh cinta. Dua, karena kesedihan yang mendalam. Maka akan lebih menyakitkan akibatnya ketika kita mengalami jatuh cinta sekaligus kesedihan yang mendalam.” – Sunset Bersama Rosie



Rekomendasikan Artikel Ini ?

Gungun Septian

Bukan Ustad, bukan Politisi, bukan Artis. Cuma Programmer yang hobi nulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *