0

Tidak Nyaman Itu Enak!

Nyaman” .  Siapa sih yang hidupnya tidak ingin merasa nyaman? Pasti hampir sebagian besar dari kita menginginkan hidupnya dipenuhi rasa nyaman, tentram dan bahagia. Saya pun merasa demikian. Kata “nyaman” benar-benar menjadi hal yang paling indah untuk kita rasakan.

Perasaan “nyaman” memang sangat kita idam-idamkan. Tapi perasaan “nyaman” bisa menjadi dua sisi mata pisau, dimana sisi yang satu akan mendatangkan kebaikan, dan sisi lainnya malah mendatangkan keburukan.

source : http://commons.wikimedia.org/

source : http://commons.wikimedia.org/

Ada kalanya kita harus “mentidaknyamankan” diri untuk meraih hal-hal yang kita inginkan dan cita-citakan. Sebagai contoh, mahasiswa yang benar-benar serius mengejar mimpi-mimpinya, serius mencari ilmu, serius untuk mengejar cita-citanya, tentunya hari-harinya akan lebih banyak dipenuhi dengan rasa “ketidaknyamanan”. Misalnya, ia harus belajar setiap malam bahkan sedikit waktunya untuk bermain-main. Ia benar-benar berada diposisi “tidak nyaman”. Tapi tentunya itu “ketidak nyamanan” itu pasti akan membuahkan hasil yang baik suatu saat nanti.

Lain halnya dengan mahasiswa yang kuliahnya malas-malasan, tidak serius, banyak bermain, tentunya hari-hari kuliahnya dipenuhi dengan rasa “nyaman”. Rasa nyaman yang akan menjadi bom waktu bila si mahasiswa tidak merubah kebiasaannya menjadi lebih baik.

Dalam hal pekerjaan, orang yang sudah merasa nyaman pada suatu pekerjaan, tidak akan pernah mencoba hal-hal baru yang bertebaran diluar sana. Tidak akan pernah mencoba peluang-peluang baru yang tentunya lebih menantang. Dan tidak akan memperkaya diri dengan ilmu-ilmu baru yang pastinya akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya.

Alkisah di kota Jakarta yang semrawut, hiduplah dua orang sahabat.  Jono dan Joni. Mereka bekerja di kantor yang sama sebagai seorang programmer dalam waktu yang cukup lama. Mereka sudah dianggap programmer senior di perusahaannya. Mereka berdua sudah sangat nyaman dengan posisi jabatannya saat itu.

Suatu hari mereka berdua ditawari pekerjaan oleh temannya yang lain disebuah kantor yang jauh lebih baik dari kantornya bekerja saat itu.  Gaji di kantor barunya tentunya akan jauh lebih besar.  Namun, di kantor yang baru, mereka diwajibkan untuk menguasai ilmu  lain di bidang IT, mereka juga wajib untuk menguasai bahasa pemmograman lain yang tentunya merupakan hal baru bagi mereka. Masa percobaan 3 bulan.

Si Joni dengan semangat menerima tawaran itu, dan bersedia untuk mencoba mengikuti test. Namun berbeda dengan Jono. Jono terlihat ragu. ada rasa ketidak percayaan diri yang tergambar dari matanya.

“Apa yang membuatmu ragu, No?” Tanya Joni.

“Kamu tahu, aku sudah punya anak istri. Aku bukannya mau mengambil peluang itu, tapi kalau misalnya selama 3 bulan percobaan aku gagal, bagaiamana nanti aku kerja? sementara aku harus banyak belajar dan menguasai ilmu-ilmu baru dalam waktu sesingkat itu. aku ragu. Sedangkan disini aku sudah merasa nyaman dan semuanya tercukupi “.

Joni akhirnya memutuskan untuk mencoba peruntungannya di perusahaan baru. Dan Jono tetap di perusahaannya yang lama.

Setahun berlalu, Ilmu-ilmu Joni sekarang sudah jauh melewati ilmu-ilmu Jono. Ilmu-ilmu Joni bertambah karena banyak hal-hal baru yang mesti ia pelajari dengan cepat di perusahaan barunya. Sementara Jono, ilmunya bertambah tidak banyak. Pada awalnya, Joni mungkin merasa sangat tidak nyaman dengan pekerjaan barunya karena ia harus kembali belajar ilmu-ilmu baru dan dituntut untuk cepat menguasai suatu bidang baru. Namun ternyata ketidaknyamanan Joni memberikan bukti bahwa Joni akhirnya jauh lebih baik dari Jono.

Sama seperti pengalaman saya, ketika saya memutuskan untuk pindah kerja dari kantor yang cukup nyaman ke kantor yang lebih baik namun harus menuntut untuk lebih banyak belajar lagi ilmu-ilmu baru. Awalnya saya merasa ragu, apakah saya bisa? apakah saya sanggup untuk belajar lagi? itu pertanyaan yang pertama terlintas dari benak saya. Tapi setelah saya jalani, memang tidak nyaman karena saya harus kembali belajar, tapi ketidaknyamanan itu bisa membuat saya mendapatkan hal-hal baru, ilmu baru. Dan tentunya saya tidak akan berkembang jika hanya nyaman dengan ilmu-ilmu yang sudah saya kuasai saja.

Konsep “ketidaknyamanan” ini berlaku untuk siapa saja dan dalam hal apa saja. Untul para siswa/mahasiswa dalam sekolahnya, karyawan dalam karirnya, seorang profesional, pengusaha,  karyawan yang ingin jadi pengusaha, dokter, artis dan siapa saja.

Setelah saya jalani, saya merasakan bahwa “ketidaknyamanan” itu enak. Karena membuat kualitas diri kita menjadi lebih baik.

Kita harus selalu “mentidaknyamankan” diri, karena di situ ada proses pembelajaran yang harus kita lakukan setiap hari.

Kita harus selalu “mentidaknyamankan” diri, karena di situ kita harus selalu bergerak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

 

Jadi bagaimana? sudah siap untuk selalu “tidak nyaman” ?  😀

 



Rekomendasikan Artikel Ini ?

Gungun Septian

Bukan Ustad, bukan Politisi, bukan Artis. Cuma Programmer yang hobi nulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *